Pagi yang cerah, hari ini rayhana memasuki hari pertama disekolah menengah atas. Sepertinya banyak tanya dan gejolak dihatinya, kepada ayah. “apakah rara boleh pergi bersama teman sebaya yang berlainan jenis? Apakah ditahun ini rara diijinkan pergi nonton tanpa keluarga? Apakah? Apakah? Apakah? “
Susah rasanya menghadapi semuanya tanpa hadirnya seorang ibu. Ya, ibu yang seharusnya menemani puterinya yang baru saja akan memulai masa remajanya, yang baru saja akan mengalami masa-masa menstruasi pertamanya, ya sekali lagi, seorang ibu yang sudah meninggalkan mereka! Tentu saja ayah, rayhana dan adik laki-laki yang memilliki ketidak sempurnaan. Bima dilahirkan sebagai anak laki-laki yang kurang beruntung, bima adalah salah satu anak dari sekian anak yang mengidap leukemia sejak lahir. Rasanya ingin keluar semua isi perut ini, karna terus membayangkan begitu rumitnya masa remaja yang akan rayhana alami tanpa seorang ibu.
Ayah tiba-tiba membangunkan rayhana dari lamunan panjang yang seolah-olah adalah langit hitam didalam rumah mungil mereka. Baru jam 6 pagi, mereka sudah berkumpul diruang makan, untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkan ayah untuk rayhana dan bima. Bima hari ini juga akan melewati paginya dirumah sakit Kanker ternama diIbukota Jakarta. Tentu saja untuk melakukan terapi, seperti hari-hari sebelumnya. Terapi yang dijalani bima, tidak lain adalah hanya berfungsi sebagai penambah kekuatan terhadap bima dalam menjalani dan melewati ganasnya leukemia.
Setelah menyelesaikan sarapannya, rayhana segera keluar rumah, memasukan tasnya kedalam mobil, karena ayah akan mengantarnya sampai sekolah barunya. Sepertinya langit pagi itu tiba-tiba menjadi mendung. Ayah menambah kecepatan laju mobilnya, agar puteri pertamanya itu tidak terlambat menghadapi hari pertamanya diSma. Satu ciuman sayang ayah, sangat memberi motifasi untuk rayhana. “ ayah hati-hati dijalan ya, nanti sudah sampai kantor, ayah sms rara ya?” begitu berartinya sosok ayah bagi rayhana, karna hanya ayah yang dapat bertahan, disela-sela cobaan Tuhan, dengan memberinya anak yang mempunyai penyakit ganas. Ibu tidak pernah bisa menerima apa yang ada didalam kehidupan bima. Ibu tidak bisa menerima bima sakit. Ibu tidak tahan merawat bima, ibu yang tidak perna sabar dalam menghadapi betapa rewelnya bima, ketika bima sedang merasakan kambuhnya.
Satu smester sudah berhasil dilalui rayhana disekolah dengan baik, rayhana selalu pandai bergaul, tetapi sebagian besar temannya adalah laki-laki, entah kenapa rayhana selalu mendapat masalah jika berteman dengan perempuan. Sahabatnya disekolah bernama gyna dan inggrid. Selain itu, rayhana pun sudah mulai jatuh hati terhadap lawan jenisnya. Rayhana mulai terhipnotis dengan indahnya bercumbu dengan danar. Laki-laki itu bernama danar. Awalnya kisah mereka sangat baik, bahkan rayhana dan danar dinobatkan sebagai pasangan terbaik pada saat sekolah mereka mengadakan Pentas seni. Sampai akhirnya, sakit dan perih yang ayah rayhana rasakan, mulai rayhana rasakan. Diliburan kenaikan kelas, danar tertangkap basah sedang menjemput inggrid dirumahnya. Ternyata sudah dua bulan inggrid menjalin kasih dengan danar dibelakang rayhana. Betapa perih sakit yang dirasakan rayhana, walaupun sesungguhnya rayhana sadar bahwa umurnya masih sangat belia untuk terjebak dalam cinta sejati.
Gyna satu-satunya sahabat yang dimiliki rayhana saat ini. Awalnya hari-hari rayhana dan gyna ditahun ajaran baru terasa baik, hingga rayhana pun mendapatkan peringkat pertama diawal smester. Tetapi semuanya tidak berlangsung lama. Ayah rayhana pun mulai sakit-sakitan, ayah tak lagi sesehat kemarin, bahkan mobil ayahpun sudah terjual untuk membiayai pengobatan bima sekaligus ayah. Rayhana mulai jatuh, rayhana mulai merasa Tuhan tidak pernah bersahabat dengannya. ”Tuhan, apalagi Tuhaaann??? Setelah ayah ditinggalkan ibu, setelah bima dikaruniai penyakit ganas, setelah danar yang dicintaiku juga mencintai inggrid, sekarang ayahkupun harus sakit?”
Gyna satu-satunya sahabat yang mengerti rayhana pun mengajak rayhana untuk bekerja sampingan, untuk menjadi Sales promotion girl disalah satu perusahaan Rokok terkemuka. Dengan berat hati ayahpun mengijinkan rayhana untuk menerima saran gyna. Tiga bulan sudah mereka bekerja menjadi Spg dan rayhana mulai menyukai pekerjaan yang dilakukannya selepas pelajaran disekolah bersama gyna. Ayah mulai menunjukan bahwa dirinya tak lagi sekuat kemarin. Detak jantung rayhana mulai tak beraturan ketika melihat ayah yang sudah diujung mautnya, dokter hanya bisa memberi kekuatan untuk ayah, tanpa bisa melakukan apa-apa lagi, karena memang ayah sudah berada diujung kematiannya. . . . .
Susah rasanya menghadapi semuanya tanpa hadirnya seorang ibu. Ya, ibu yang seharusnya menemani puterinya yang baru saja akan memulai masa remajanya, yang baru saja akan mengalami masa-masa menstruasi pertamanya, ya sekali lagi, seorang ibu yang sudah meninggalkan mereka! Tentu saja ayah, rayhana dan adik laki-laki yang memilliki ketidak sempurnaan. Bima dilahirkan sebagai anak laki-laki yang kurang beruntung, bima adalah salah satu anak dari sekian anak yang mengidap leukemia sejak lahir. Rasanya ingin keluar semua isi perut ini, karna terus membayangkan begitu rumitnya masa remaja yang akan rayhana alami tanpa seorang ibu.
Ayah tiba-tiba membangunkan rayhana dari lamunan panjang yang seolah-olah adalah langit hitam didalam rumah mungil mereka. Baru jam 6 pagi, mereka sudah berkumpul diruang makan, untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkan ayah untuk rayhana dan bima. Bima hari ini juga akan melewati paginya dirumah sakit Kanker ternama diIbukota Jakarta. Tentu saja untuk melakukan terapi, seperti hari-hari sebelumnya. Terapi yang dijalani bima, tidak lain adalah hanya berfungsi sebagai penambah kekuatan terhadap bima dalam menjalani dan melewati ganasnya leukemia.
Setelah menyelesaikan sarapannya, rayhana segera keluar rumah, memasukan tasnya kedalam mobil, karena ayah akan mengantarnya sampai sekolah barunya. Sepertinya langit pagi itu tiba-tiba menjadi mendung. Ayah menambah kecepatan laju mobilnya, agar puteri pertamanya itu tidak terlambat menghadapi hari pertamanya diSma. Satu ciuman sayang ayah, sangat memberi motifasi untuk rayhana. “ ayah hati-hati dijalan ya, nanti sudah sampai kantor, ayah sms rara ya?” begitu berartinya sosok ayah bagi rayhana, karna hanya ayah yang dapat bertahan, disela-sela cobaan Tuhan, dengan memberinya anak yang mempunyai penyakit ganas. Ibu tidak pernah bisa menerima apa yang ada didalam kehidupan bima. Ibu tidak bisa menerima bima sakit. Ibu tidak tahan merawat bima, ibu yang tidak perna sabar dalam menghadapi betapa rewelnya bima, ketika bima sedang merasakan kambuhnya.
Satu smester sudah berhasil dilalui rayhana disekolah dengan baik, rayhana selalu pandai bergaul, tetapi sebagian besar temannya adalah laki-laki, entah kenapa rayhana selalu mendapat masalah jika berteman dengan perempuan. Sahabatnya disekolah bernama gyna dan inggrid. Selain itu, rayhana pun sudah mulai jatuh hati terhadap lawan jenisnya. Rayhana mulai terhipnotis dengan indahnya bercumbu dengan danar. Laki-laki itu bernama danar. Awalnya kisah mereka sangat baik, bahkan rayhana dan danar dinobatkan sebagai pasangan terbaik pada saat sekolah mereka mengadakan Pentas seni. Sampai akhirnya, sakit dan perih yang ayah rayhana rasakan, mulai rayhana rasakan. Diliburan kenaikan kelas, danar tertangkap basah sedang menjemput inggrid dirumahnya. Ternyata sudah dua bulan inggrid menjalin kasih dengan danar dibelakang rayhana. Betapa perih sakit yang dirasakan rayhana, walaupun sesungguhnya rayhana sadar bahwa umurnya masih sangat belia untuk terjebak dalam cinta sejati.
Gyna satu-satunya sahabat yang dimiliki rayhana saat ini. Awalnya hari-hari rayhana dan gyna ditahun ajaran baru terasa baik, hingga rayhana pun mendapatkan peringkat pertama diawal smester. Tetapi semuanya tidak berlangsung lama. Ayah rayhana pun mulai sakit-sakitan, ayah tak lagi sesehat kemarin, bahkan mobil ayahpun sudah terjual untuk membiayai pengobatan bima sekaligus ayah. Rayhana mulai jatuh, rayhana mulai merasa Tuhan tidak pernah bersahabat dengannya. ”Tuhan, apalagi Tuhaaann??? Setelah ayah ditinggalkan ibu, setelah bima dikaruniai penyakit ganas, setelah danar yang dicintaiku juga mencintai inggrid, sekarang ayahkupun harus sakit?”
Gyna satu-satunya sahabat yang mengerti rayhana pun mengajak rayhana untuk bekerja sampingan, untuk menjadi Sales promotion girl disalah satu perusahaan Rokok terkemuka. Dengan berat hati ayahpun mengijinkan rayhana untuk menerima saran gyna. Tiga bulan sudah mereka bekerja menjadi Spg dan rayhana mulai menyukai pekerjaan yang dilakukannya selepas pelajaran disekolah bersama gyna. Ayah mulai menunjukan bahwa dirinya tak lagi sekuat kemarin. Detak jantung rayhana mulai tak beraturan ketika melihat ayah yang sudah diujung mautnya, dokter hanya bisa memberi kekuatan untuk ayah, tanpa bisa melakukan apa-apa lagi, karena memang ayah sudah berada diujung kematiannya. . . . .
( to be continue )